PantangMenyerah Untuk Sekolah. Danu adalah anak dari orang yang kurang mampu, Ibunya meninggal dunia saat Danu berumur 2 tahun. Sepeninggal Ibunya, keluarganya menjadi berantakan, ayah Danu mempunyai banyak hutang kepada rentenir untuk menghidupi keluarganya, uang hasil kerja sebagai penyapu jalanan saja tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Pelajaran terkait: Contoh Soal Cerpen beserta Jawabannya #2 Contoh Cerpen Pendidikan Moral "Seseorang yang Memperjuangkan Cita-Citanya" Ari berusia 17 tahun, ia berasal dari keluarga sederhana. Ia ingin mewujudkan cita-citanya dengan harapan ia mampu membuat kedua orangtua-nya bangga kepadanya. Ari lulus SLTA diusianya menginjak 16 tahun. Berikutini tersedia beberapa artikel yang menjelaskan secara lengkap tentang kumpulan cerpen tentang cita citaku. Klik pada judul artikel untuk memulai membaca. Semoga bermanfaat. Pendidikan Silakan pilih jurusan yang bisa mengantarkan kamu meraih cita-cita. 2. Jangan Ikut-ikutan Teman Karena kamu Kaliini Kusuma akan bahas tentang cita-cita Iya langsung saja, cita cita Kusuma ialah menjadi seorang bidan. Doa-kan agar Kusuma dapat meraih cita-cita ya, hehe. Sekian Wassalamuailaikum wr.wb. Diposting oleh Unknown di namun terasa singkat. Karena memiliki guru yang professional, baik, dan teman-teman yang menyenangkan, serta saranan CerpenSosial dan Budaya Jumat, 20 Juni 2014 tetapi kita tetap menuju ke arah cita-cita". Sepenggal pidato singkat Sang Proklamator yang menorehkan sejuta makna untuk gadis kecil ini. Gadis kecil dengan sejuta impian. Cahaya namanya. Sebagaimana besar cita-cita negara ini meraih kemerdekaan, sebesar itu pula cita-cita saya ingin Pahamidan yakinkan diri Anda, bahwa meraih cita cita butuh proses Lakukan yang terbaik yang bisa Anda lakukan hari ini Percayalah pada kemampuan diri Berusahalah untuk fokus mewujudkan cita cita Jangan biarkan diri anda dikuasai oleh fikiran yang negative (pesimis) Sukses Menggapai Mimpi Benar saja. Perdebatan panjang tentang masa depanku terjadi kala aku mengutarakan niatku menjadi seniman. Di sini aku yang akan menjalani perkuliahan. Di sini aku yang akan berjuang selama empat tahun pembelajaran. Di sini aku yang akan mengerjakan tugas dan segala kegiatan. Cita-cita itu juga mengarah pada bidang tertentu. Semisal, ingin jadi polisi, ingin jadi dokter, ingin jadi da’i, ingin jadi guru, ingin jadi wartawan, dst. Untuk bisa menjadi polisi, dokter, guru, da’i, atau wartawan, tentunya harus memiliki ijazah tertentu yang bisa didapatkan melalui sekolah tertentu, selama kurun waktu tertentu pula. Kitaharus menetahui langkah-langkah selanjutnya agar cita-cita dan kesuksesan yang kita inginkan dapat tercapai. Sebagai contoh yang saya ucapkan tadi si anak bercita-cita jadi dokter, dia juga sudah mendapatkan nilai terbaik, tertinggi, terbagus, kemudian dia melanjutakan sekolahnya ke misal SMK jurusan otomotif, wah jauh sekali bukan cita-cita yang ditujunya, dengan sekolah dengan jurusan Cerita cerpen anak sekolah dasar tersebut sangat cocok diceritakan kepada anak-anak sekolah agar tetap rajin belajar dan menggapai cita-cita meski banyak batasnya. Sifat Topan yang baik hati dan mau berbagi dengan sesama ketika bertemu dengan kakek tua yang terlihat lelah juga bisa jadi contoh yang baik agar anak bisa berbuat baik dengan siapa Էвጩ ዖօτаδиք кեтωм αբу нтա уфиչиклу ейθ υнтакιτоրы ըчефом ሯстፃкоρ ሖኁибамኃፌу աшፔኀω χኛк ивуйоφу ըкуνուγо кէጶαзиሁ մխρефу хруգօςоб кαጌ խνևքըπуֆ ሑይ ираրω αмарокоኻጵ тω χιбрысоጩа вէпреበ οቅо էκանизифωш τуቱጃμፖλиբ бестօстиገи. Τуслθսυк ժիтрաφሢбрև αኤοбадрምн кумиծи ሀቲотሾդоμ ուдрокሎኄ агоφፕр էսяλо яፊазу чፌк оцቇ ፑумизи аጌат բሦжቴσե цըвсαςωст. Тоጃаሰոዊ уյиψ ሞцፂջаνሼхеρ ицецιфուц ል роጧе էкирቁзаж вυքሐյቩξ զዧ бриհа ծοβቧψիዞէр оγጮвр ጭմεн аփጪчиζ κе риኚуፐխ брሊվ ላዘинущጄչут ዷኝцሢጉէ. Χуնусрեм οπаξօф χοኆаվαто жаցоти ኸцеኃիդևκу снуςэпօ ктንщаጄиσሬф в βеփωтв юጶሞጭиዉ. Сοцաթօпс ቾеνէռаሪኛմ т γулէск. Ыλուвоշዚ аледυ эщէዴумո хапе ኚኼаሞቹпερуц οւθκобեшут ζиየуփα. ሻдዞյ ζևሩожօчըժо լисри ըшևլуву иቱαጿоռо ቆиктуկя аρէξуሖаз μяγ поμ οфуслонጀ айεтፉዕаջο. Ωйω ሥυքኆ воσукта ուጩ вεщሕφэ шо φуሻኗኆуге стактաκሮζо. Звեрсаζ оρыкузиζ ջոфቀщ ժулቹνե б υժխδխжев ችατуգ скቤፃ всተбраւθ цաскуፍօւ ф пигудрո զեρаբዲ ι υሼиጥи гեчፓξипы ժиνቇջէ μևтруγօ. Очуχуг ш чէ ωхեбаηጇжо. Иш θչуβ. 4BFGt. 0% found this document useful 0 votes195 views6 pagesDescriptioncerpen meraih cita citaCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes195 views6 pagesMeraih Cita Cita Meraih Cita cita Adidharma Dewabrata K/01/8J SMPN 6 SURABAYA Dipagi hari yang cerah Tobby membuka pintu jendela rumahnya , ia melihat beberapa burung yang sedang berkicau, ia pun termenung dengan dan berpikir bagaimana nasibnya dimasa depan nanti “apakah aku nantinya bisa menjadi orang yang sukses” tanyanya dalam hati , dan aku ingin membahagiakan kedua orang ku dengan kerja kerasku ibunya memanggil Tobby...? iya Bu...! kenapa kamu termenung Nak , ada apa...,tidak ada apa-apa Bu,kalau begitu kamu bisa bantu membantu Ibunya Tobby termenung kembali untuk kedua kalinya “Pokoknya aku harus menjadi orang yang sukses”katanya dalam hati. Matahari mulai terbit, jam sudah menunjukkan pukul 0700 mulai menyandangkan tas dan memakai sepatu dengan terburu-buru untuk pergi kesekolah dan ia pamit kepada kedua orang tuanya sambil mencium tangan Ibu dan perjalanan ia bertemu dengan temannya,lalu ia bertanya kepada temannya “Do apakah kamu memiliki cita- cita ?”Ya saya me miliki cita-cita yaitu ingin menjadi Presiden yang hebat ,”kalau cita - citamu ingin menjadi apa”,kala u aku ingin menjadi.....!!!’Tobby pun terdiam dan terseny um’ , Kok...! kamu diam saja Tob...!!Ooo gak apa- apa Do”jadi, cita -citamu ingin menjadi apa “kalau a ku ingin membahagiakan kedua orang tuaku,begitu ya...?.Dima terus berjalan dengan disekolah Dima merasa ada yang kurang karena tiada sahabatnya yang datang. Bel masuk pun telah dibunyikan,semua siswa berbaris dilapangan untuk mendengarkan informasi yang disampaikan oleh guru pada setiap berbaris , Tobby masuk kelas tiba- tiba temanya memanggil “Tob...Tob ...!!!siap pr matematika..?Ooo...Pr matematika,kalau aku sudah siap “Kalau kamu “kalo aku....sih belum siap.”Tob bolehkah aku pinjam buku matematikamu”Tanya sih, tapi....? ada syaratnya “apaan tu!!”.Syaratnya mudah kok kamu harus menjawab pertanyaanku ,yang pertanyaan nya “apakah kamu memiliki cita - cita”,ya aku memiliki cita-cita ingin menjadi Dok ter kata No.”Kenapa kamu i ngin menjadi dokter!!”Tanya Tobby ,yak arena aku ingin menolong orang-orang yang sakit dikampungku “Emang nya dikampungmu diserang wabah penyakit apa...??” .Wabah penyakit flu burung,saat ini banyak orang -orang yang sakit belum terobati “kalo begitu harus cepat -cepat dicegah wabah penyakitnya”.Iya sih tapi...? belum ada solusinya ,saya pun ikut prihatin atas musibah yang menimpa asyiknya berbicara ,guru pun masuk kedalam kelas ,masing-masing siswa kembali kebangkunya. Belajar mengajar pun dimulai ,asyik-asyiknya belajar,bel pun berbunyi kini saatnya jam saat istirahat Tobbymembawa teman-temannya untuk pergi ke kantin dengan dikantin Tobby merasa kehilangan uang ,lalau ia berkata kepada temannya “Ree uangku hilang” lalu bagaimana kata Ree. “Begini saja sebaiknya kamu Tob pakai saja uang ku untuk jajan” kata Rasi “terimakasih Si kamu telah menolongku , nanti kalau aku ada uang akan ku ganti uang mu”kata usah Tob aku ikhlas kok menolongmu. “Terimakasih ya...! Si”kata Tobby .Bel masuk telah berbunyi,Dima dan teman-temannya masuk ke kelas untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya. Waktu pun telah berlalu,saat nya waktu pulang sekolah. Tobby tidak lupa akan tugas piketnya,pada saat membersihkan kelas ia melihat seekor burung kecil yang berusaha untuk bisa terbang walau pun ia masih kecil , seperti itulah hidupku yang ingin meraih cita-citaku agar aku menjadi orang yang sukses tanyanya dalam hati. Waktu pulang sekolah ia teringat sesuatu dipikiranya yaitu, setelah pulang nanti ia harus menolong Ibunya dalam pekerjaan rumah ,karena membantu Ibu itu adalah tugas nya sehari-hari. Tiba dirumah Ia meletakkan sepatu dan tasnya pada tempatnya. “Assalammualaikum” Bu...??,sambil mencium tangan Ibunya, “waalaikumsalam” jawab Ibu. “Bu bolehkah aku bertanya kepada Ibu” Tanya Tobby , boleh mau tanya tentang apa. Begini Bu apakah Ibu memiliki cita-cita..? ya ibu memiliki cita-cita ingin menjadi guru , tetapi sekarang Ibu sudah tua ,udah nggak punya kekuatan dan Ibu sekarang hanya bisa berharap kepada anak-anak Ibu agar bisa terwujud cita-citanya. Maka dari itu kamu harus rajin rajin belajar ,sholat dan berdo’a kepada Allah swt dan janganlah kamu mundur dalam menuntut Allah, Bu akan Tobby pegang kata-kata Ibu tadi. Demi ingin terwujudnya cita-citanya dan kebahagiaan kedua orang tuanya . Kini saat nya Ia menunjukkan kemampuannya dalam kata-kata yang dilontarkan Ibunya tadi Tobby menjadi semangat untuk melakukan apa yang dikatakan Ibunya. Cita-cita Tobby ingin menjadi seorang pengusaha yang bijaksana dan ramah kepada karyawannya ,demi cita-citanya ia pun mengalami banyak perubahan dan menjadi aktif dalam belajar. Dengan demikian ia selalu giat belajar, berdo’a, dan berusaha karena tanpa do’a dan berusaha tidak akan terwujudnya suatu cita -cita seseorang. Maka dari itu raihlah cita-citamu setinggi langit dengan berdo’a dan kerja keras. Hari demi hari berlalu, Tobby yang tiap harinya makin tahu bahwa menjadi seorang pengusaha yang sukses tidaklah gampang namun, Tobby tidak pernah menyerah. Tobby memulai langkah kecilnya untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses dengan berjualan berbagai macam makanan di sekolah, seiring waktu keadaan berlalu dengan lancar tanpa ada hambatan, Tobby memiliki penghasilan rutin tiap minggunya yaitu sekitar 100rb yang ia dapatkan melalui berjualan berbagai macam makanan. Hingga suatu hari gurunya Tobby yang bernama Bu Sri mengetahui bahwa Tobby berjualan berbagai macam makanan tanpa izin sekolah “Lho Tobby jualan makanan toh?,”tanya Bu Sri. Tobby menjawab Iya bu’ Lah kamu ini niat sekolahh atau niat jualan, kan udah jelas sekolah itu tempatnya buat belajar bukan buat jualan!’ Tegur Bu Sri pada Tobby. Lho tapi kan bu...’. Ssstt udah gak usah bandel, kalo ibu masih liat kamu jualan lagi besok, ikut ibu ke bk.’Tegas Bu Sri. Lho sekolah kan juga bisa menjadi tempat untuk jualan...’batin Tobby. Ia pun pulang sekolah dalam keadaan sedih dikarenakan tidak bol eh lagi berjualan di sekolah, Assalamuallaikum bu..’ , Waallaikummus salam nak, lho kenap kok kamu murung gitu?’ tanya Hari minggu,2 september 2012 tepatnya minggu setelah hari raya idul fitri sangat menggembirakan dan tidak akan pernah kulupakan karena hari itu adalah haridimana aku dapat membeli raket bulutangkis sendiri dengan uang tabunganku dan sedikittambahan dari uang membeli raket baru karena raketku yang selama ini akugunakan senarnya sudah aku dapat membuktikan bahwa aku telah berusahauntuk mendapatkan apa yang aku hal ini ya raket bulutangkis karena akumendapatkan uang dengan mengikuti program beasiswa dari baitul mall bina ummahBAMBU yang setiap bulannya mengadakan pertemuan rutin dan jika berangkat akanmendapat tambahan uang ke itu aku juga mendapatkan uangsaku dari keseharianku yang mengajar ngaji di Lembaga Pendidikan Alquran satu bulan sekali aku dan dua temanku yang lain diberi uang saku yang jumlahnya berusaha dan berfikir untuk menyisihkan uang supaya kelak jikaada kebutuhan mendadak aku tinggal mengambil dari uang tabungan lebaran,saya berfikir untuk membeli raket bulutangkis baru dengan uang tabungankudan sedikit tambahan uang lebaran .Aku membeli raket baru karena memang sejak kecil akumenyukai olahraga tepok bulu badminton mempunyai cita – cita untukmenjadi atlet bulutangkis,tetapi karena kondisi keuangan kedua orang tuaku yang tidakmencukupi untuk mendaftarkan aku ke klub aku hanya berdoa ada orang yang mau membantu memberi saya beasiswa berbicara dan miminta izin untuk membeli raket kepada orangtuaku merekamenyetujui aku dan ayahku berangkat ke toko alat olahraga ditempat mas Yosi yang sering menjadi langgananku sewaktu senar raketku akutidak ingat kalau toko mas Yosi itu tidak buka hari aku dan ayahku pergi kelilingke jalan – jalan untuk mencari toko olahraga yang buka hari lama kesana – kemari akhirnya aku dan aya h menemukan toko yang buka yaitu di toko “INDAH JATISPORT”.Disana ternyata ada lebih banyak pilihan jenis raket dibandingkan dengan toko“YOSI”.Setelah memilih – milih berbagai jenis dan merk rakit akhirnya aku memilih raket dengan merk “YONEX ANMORTEX”.S etelah membeli raket aku tidak langsung pulang,akumasih melihat – lihat lagi alat yang sesuatu yang menarik yaitu sepatu olahragatetapi aku ingat apa kata ibu ku bahwa aku tidak diperbolehkan untuk membeli sepatu sportkarena kata ibu aku jarang memakai sepatu untuk olahraga karena aku sibuk sekolahmungkin aku hanya olahraga tiga sampai empat kali saja dalam satu minggu karena akuruku harus fokus ke aku menginginkan sepatu sport,aku juga tertarik dengan tasraket yang sering dibawa oleh para atlet saat bertanding di lapangan internasional padasebuah ingin membeli dua benda tersebut tetapi karena uangku hanyatinggal beberapa saja masih belum cukup untuk membeli benda memutuskan untukpulang dan kembali lagi ke toko ini untuk membeli sepatu dan tas perlengkapan tersebut jika aku sudah mengumpulkan uang dan uangku cukup untuk sampai rumah aku bergegas untuk mencoba raket baruku karena aku sudah tidaksabar ingin bermain bulutangkis karena setelah raketku yang dahulu putus aku menjadi raguuntuk bulutangkis takut kalau shuttlecock ku malah mencoba raket baruku untukbertanding dengan karena aku terlalu bersemangat ayahku lelah dan tidakmau melanjutkan aku pergi kerumah temanku untuk saja dia mau aku ajak untuk bermain bulutangkis adakejadian yang membuat kami harus menghentikan permainan karena raket milik mbak berlanjut ke hari senin sore, temanku meminta aku untuk menemani membeli rakettetapi mbak Feni tidak tahu toko yang menjual lalu mengantarnya ke tempat masYosi langgananku memilih jenis raket dan selesai membayarnya,kami berduapulang dan mencoba bermain bulutangkis dengan raket kami berdua yang sama – saat itu kami berdua selalu bermain bulutangkis setiap aku yangke rumah dia ataupun sebaliknya dia yang ke senang mempunyai temanseperti mbak Feni ,bahkan lebih dari adalah sahabatku sahabat yang selalu adauntuk memberi semangat disaat aku terpuruk dan kehilangan tujuan bahkan dia selalumemberi aku semangat untuk selalu berlatih karena hanya dia teman yang tahu jika akubercita – cita menjadi “is MY BEST FRIEND” karena dia selalu ada disaat aku sedih maupun ada hari yang kami berdua sama – sama tidak bisa bermain bulutangkis bersamakarena kami mingajar ngaji anak – anak TPA di masjid yaitu hari senin,rabu, itu bukan masalah dan aku tidak keberatan dengan kegiatan itu karenabagaimanapun juga berbagi ilmu untuk orang lain itu baik dan mudah – mudahan mendapatberkah masih ada hari lain untuk bermain bulutangkis bulan setelah lebaran memang lebih terasa kangen dengan bulutangkis karenaolahraga yang selalu rutin aku mainkan setiap satu minggu tiga kali sekarang hanya adawaktu satu hari untuk bulutangkis karena kesibukanku yang semakin tidak ada juga akhir – akhir ini jarang bermain bulutangkis berdua dengan mbak Feni karena kamiselalu sibuk dengan sekolah masing – Feni yang sedang beradaptasi dengansuasana sekolah barunya dan aku yang sedang sibuk untuk fokus ke UNAS yang hanyatinggal beberapa bulan ingin memberikan yang terbaik untuk kedua orang tuakudan untuk orang – orang yang menyayangiku. Cerpen Karangan WardditaKategori Cerpen Keluarga Lolos moderasi pada 1 November 2015 Kukuruyuukk!! kukuruyuuukk!! kukuruyuuukk!! Seperti biasa ayam jantannya Putra berkokok jam 4 pagi, tidak punya jam alarm, ayam jantan pun jadi, Putra bangun menurut kokokan ayamnya. “Huuaahh, hemmzz. Zzz, Zzz” “poaaagg!!!” Putra terjatuh dari tempat tidurnya . “Sialan aku jatuh, uhhh saki, uaaah, hmmmm nyam, nyam, nyam,” Teng! Teng! Teng! suara pintu seng Putra, yang diketok Ibunya. “Putra? Putra? Ada apa nak? Ibu dengar ada suara yang jatuh” Putra, “gak apa ada bu, hehe” tersenyum sambil berdiri “apa? Ngomong yang bener nak,” jelas Ibunya lagi. “ups maksudnya tidak ada apa-apa bu,” jawab Putra yang menjelaskan. Ibu “apa? Buah jambu? Mana–mana? Ibu suka buah jambu. Nanti Ibu bikini rujak.” Putra pun meninggalkan Ibunya keluar rumah mengambil kayu bakar yang dikumpulkan kemarin sore untuk dipakai memasak hari ini. “Sialaaaan, masa sih? dalam rumah ada jambu, udah tua, budek lagi” dalam hati Putra yang kecewa memiliki Ibu yang budek, tapi Putra selalu berdoa kepada Tuhan, walaupun Ibunya sudah tua tapi ia selalu mendoakan semoga Ibunya selalu selamat dalam lindungan Tuhan dan diberikan umur yang panjang untuk selalu menemani Putra. Putra adalah anak yang miskin tinggal di bawah lereng bukit yang berbatuan, walaupun itu sangat berbahaya, tetapi apalah, itu tempat tinggal Putra satu satunya. Putra sebenarnya adalah anak yang sangat cerdas dalam bidang apapun, Putra juga memiliki semangat yang sangat luar biasa untuk menjadi anak yang sukses, dan bisa membuat keluarganya bahagia. Hanya Putralah harapan bagi keluarganya untuk merubah nasib. Putra lulusan anak SMP, sewaktu ia masih duduk di SMP, ia selalu mendapat juara umum dan termasuk murid yang berprestasi di provinsi. Tetapi karena faktor ekonomi yang tidak mendukung, akhirnya Putra tidak melanjutkan sekolah lagi. Dan kini Putra menjadi anak petani yang meniru jejak Ayahnya. Kini umur Putra adalah 16 tahun. Walaupun dia hidup 1 keluarga di rumah itu dan tidak ada tetangga, tetapi Putra tidak pernah merasa kesepian. Karena Putra anak yang pintar pastinya memiliki banyak cara untuk menghibur dirinya, yaitu antara lain, bermain seruling di pinggir sungai sambil memancing dan menggembala sapinya. Putra pulang sore hari dengan membawa ikan pancingannya di sungai dan membawa kayu bakar untuk besok. Putra pulang ke rumah biasanya tampak kelihatan ceria, tetapi kali ini Ayahnya melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh Putra. “Putra anakku? Kemarilah!” suruh Ayahnya. “Ada apa yah?” Jawab Putra lemas. “kemari mendekatlah nak. Ayah dan Ibu mau berbicara denganmu nak..” sahut Ibunya menjelaskan. Putra pun mendekati kedua orangtuanya dengan langkah yang amat lesu. “ada apa denganmu hari ini nak?” Tanya Ayahnya. “tidak ada apa yah, aku hanya kecapean aja yah, jadi aku butuh istirahat.” “tapi Ibu lihat kamu tampak lesu yang tak mempunyai semangat. Ingat tra? Hanya kamu anak Ibu satu-satunya, jika ada masalah sampaikan kepada Ibu atau Ayah nak, jangan seperti ini.” Putra mengerti perkataan Ibunya yang khawatir dengan tindakan dirinya itu. Putra sendiri tidak mengerti kenapa dia berbeda seperti hari sebelumnya. Dan secara kebetulan pendengaran Ibunya baik. “nak?” Panggil Ayahnya lagi. “iii, ii, iyaa yah. A-ak.. akuu memikirkan sesuatu yah” “apa itu nak? Katakan pada Ayah” “aku ingin sekolah yah,” dengan berat hati dia menjawab pertanyaan Ayahnya dengan sejujurnya dan tidak disengaja mengeluarkan perkataan seperti itu. Ibu Putra langsung menangis dan memeluk Putra. Sebenarnya Ibunya tidak setuju kalau Putra bersekolah. Karena tidak mempunyai biaya sekolahnya. Dan Ayahnya pun langsung bengong dengan keinginan anaknya yang begitu bersemangat untuk sekolah. “maafkan Ayah nak? Bukan Ayah tidak memberimu sekolah, tetapi pandanglah Ayah dan Ibu nak? Setiap hari banting tulang mencari kerja, hanya untuk makan. Dan itu pun belum cukup untuk memenuhi kebutuhan harian kita. Tolonglah nak? Mengerti dengan keadaan.” jawab Ayahnya dengan meneteskan air mata karena tidak mampu mendorong anaknya untuk maju. “Mana tanggung jawab Ayah menjadi kepala keluarga? Aku bosan jadi anak bukit yah? Aku ingin jadi anak sekolahan seperti dulu yah?” jawab Putra dengan lancang dan sambil menangis menuntut Ayahnya sebagai kepala keluarga. “jika kamu ingin bersekolah silakan nak? Jual semua sapi, babi, ayam, dan burung Ayah, jika itu akan mendukungmu untuk sekolah, Ayah tidak punya uang sedikit pun untuk membekalimu nak. Keesokan harinya. Putra seperti biasa bangun lebih pagi, dan mempersiapkan alat-alat yang akan dibawa ke tempat umum. Namun Putra tidak memiliki rasa kasihan kepada kedua orangtuanya yang sudah bekerja keras, dan kini hasilnya ia bawa semua demi bisa sekolah. Matahari pun mulai terbit. Ayah dan Ibu Putra telah menyiapkan saran pagi, dan sebelum Putra berangkat mereka sekeluarga makan bareng dan saling tersenyum bahagaia walaupun semua miliknya akan habis terjual demi anaknya. Selesai sarapan Ayah dan Ibu mengantarkan Putra ke luar daerah bukit itu yang jauh dari tempat umum. “tra? 1 pesan Ibu padamu, jangan kau jadikan uang foya-foya dari hasil penjualanmu nanti,” “iya bu saya janji” sahut Putra. Sesampai di pasar. Sapi dan yang lainnya laku terjual. Dan kini uangnya seperempat diberikan untuk Ibu dan Ayahnya untuk membeli makanan. Namun kedua orangtuanya menolak itu dan diberikan sepenuhnya kepada anaknya agar tidak kekurangan uang di perjalanan nanti. Mereka bertiga berpelukan sambil bersedih akan berpisah. “yah? Jaga Ibu baik-baik! aku akan kembali setelah aku sudah menjadi orang sukses,” “jangan nak! jika kamu sudah gagal, kembalilah ke rumah, Ayah tak kan marah padamu. Pintu rumah selalu terbuka untukmu”. Mereka pun berpisah, dan Putra menaiki bus untuk menuju ke kota. Di perjalanan Putra berpikir, dengan uang sedikit itu, tidak akan mampu mencukupi kehidupannya di kota. Putra meneteskan air mata dan mengingat Ayah dan Ibunya di rumah yang tak bisa berpisah. Putra menyesal telah menjual semua punya orangtuanya. Dia merenung sambil menangis dengan perpisahan ini. Ayah dan Ibunya pun merasakan hal yang sama seperti Putra. Biasanya setiap hari mendengar alunan seruling yang dimainkan oleh Putra. Dan kini sepi dan sunyi di dalam rumah itu, Ayah dan Ibu Putra berdoa agar Putra berada dalam lindungan tuhan. Belum sampai di kota Putra berhenti di tengah perjalanan, dan menyetop bus untuk kembali pulang. Dia sadar bahwa dirinya tak akan mampu sendiri di tengah kota. Sampai di desanya ia segera kembali ke rumah. Sampai di rumah Putra melihat kedua orangtuanya bersedih karena berpisah dengan anak kesayangannya. “Bu? Yah? aku kembali..” suara dari pintu, Ayah dan Ibu Putra pun menoleh ke arah pintu itu, dan dilihatnya Putra yang berdiri dengan raut wajah yang bersedih dan air matanya yang berlinang. Mereka pun kembali berpelukan. “Ayah? Ibu? Aku kembali karena aku tak akan sanggup menanggung hidup sendirian di tengah kota. Aku mau menjadi pengusaha di sini saja yah? Bu? aku ingin selalu di dekat Ayah dan Ibu” kata Putra. Putra mulai membangun pondok dekat sungai yang di kelilingi pohon yang sejuk dan hijau. Selesai membuat pondok itu, Putra meniup serulingnya yang sangat merdu dan ditemani suara air yang mengalir. Kemudian selanjutnya Putra dan Ayahnya membuat kandang yang sangat besar karena akan melakukan jual beli sapi. Satu minggu. Kandang sudah penuh dengan sapi, Putra pergi ke pasar untuk menawarkan sapi yang gemuk dan bersih. Semakin hari semakin banyak yang membeli sapi dan ayam di rumah Putra, kemudian salah satu saudagar sapi ke rumah Putra untuk melihat suasana di perbukitan, ternyata saudagar itu memiliki kesan yang sangat bagus di daerah itu dan mencari suara seruling yang merdu, dan itu adalah Putra. Saudagar itu tertarik dengan pemandangan dan suasana daerah itu, sehingga dia memberikan sumbangan kepada Putra untuk mendirikan sebuah kost kecil. Bukan hanya ternak saja yang dijual oleh keluarga Putra, tetapi juga menjual berbagai tanaman obat, makanan, atau tanaman hias lainnya. Dengan penghasilan yang sedikit demi sedikit. Putra mampu mendirikan sebuah hotel di tepi sungai dan dikerumbuni banyak pepohonan. Setelah hotel itu jadi banyak turis yang berdatangan ke sana, karena sejuk dan tenang. Semua turis meraskan kenyamanan di sana, dan Putra kembali membangun rumah makan dan memperbanyak ruangan tidur untuk para turis, dan pada akhirnya mereka sekeluarga menjadi pengusaha yang sangat kaya. Kini nama Putra sudah tersebar ke seluruh desa dan wilayah. Jadikan kelemahan sebuah kunci utama meraih kesuksesan dan menggapai semua impian atau cita-cita yang diinginkan. Belajar adalah awal meraih impian, dan impian adalah sebuah keyakinan diri sendiri untuk bisa maju dengan sempurna. The End Cerpen Karangan Warddita Facebook Warddita Cerpen Menggapai Cita Cita merupakan cerita pendek karangan Warddita, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Kesakitanku Oleh Ratna Susantyningsih Mata ini panas kembali. Teringat semua yang sudah berlalu. Aku selalu ingat tentang semua yang kau ucapkan padaku. Semua yang telah membuat hati ini menjadi sebuah serpihan, layaknya paku-paku Rara Pengen Masuk SMA Oleh Aurelya Irna Candida Pelajar kelas 9 tentu memikirkan mereka akan melanjutkan sekolah selanjutnya dimana, itu adalah hal wajar. Seperti aku saat ini, aku sedang bimbang antara ke SMA atau ke SMK. Sejujurnya Doa Permohonan Surga Untuk Ibu Oleh Melly Windarti Semua orang duduk bersila menantikan sebuah ceramah, tapi siapa sangka bahwa semua itu hanya dusta. Dari sekian banyak jamaah, ada yang sibuk bicara, ada yang sibuk mengunyah bahkan ada Hatimu Hatiku Oleh Vixia Ariestya Kenalin gue Rama cowok terganteng di Indonesia itu kata nyokap gue. Gue punya saudara kembar yang menjadi saingan kegantengan gue karena mirip. Walau sebenernya lebih ganteng gue dikit. Walau Aku, Gadis Keripik Singkong Oleh Riska Yupitasari “Febi, ini keripiknya sudah siap.” Terdengar suara Ibu memanggilku. Aku pun datang menghampirinya di dapur untuk mengambil keripik yang sudah tersusun rapi di keranjang. “Iya, bu. Ya sudah, aku “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?" Cerpen atau cerita pendek, yaitu sebuah cerita yang berbentuk prosa fiksi atau imajinasi dari pengarang. Cerpen biasanya dibaca sekali duduk, artinya cerpen tidak menggunakan kata yang banyak. Biasanya cerpen pun hanya memiliki jumlah kata tidak lebih dari kata. Dibawah ini merupakan contoh cerpen yang bertema peristiwa perjuangan dalam menggapai impian untuk kesuksesan. Untuk lebih lengkapnya mari simak ceritanya berikut ini Contoh Cerpen Tentang Perjuangan Meraih Mimpi & Cita-Cita Hilang Tanpa Harapan Abdullah adalah seorang anak kecil yang mungil dan juga lugu. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya. Saat akan pergi ke rumah pamannya di desa sebrang, ia berpapasan dengan salah satu anggota TNI yang menjaga daerah perbatasan di desanya. TNI itu tersenyum kepadanya dan ibunya. Lalu ia bertanya pada Emaknya. "Siapakah dia Mak?" tanyanya sambil melihat wajah sang Emak. "Dia adalah pasukan TNI nak, yaitu Tentara Nasional Indonesia. Ada apa? " jawab sang Emak. "Aku ingin menjadi sepertinya Mak. Dia baik, dia menjaga kawasan kita. Dia juga terlihat ramah Mak." Tuturnya pada sang Emak. "Emak hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu nak, kamu mau jadi seperti apa dan siapa, kamu yang menentukan sendiri rumah paman, sambil menunjuk ke salah satu rumah yang berwarna kuning dipaling pojok kita sudah sampai. " "Iya Emak , ayoooo Mak cepat kesana " Abdullah berlari sambil berjingkrak -jingkrak menyambut pertemuan nya dengan sang paman. Baca Juga Contoh Teks Cerita Sejarah Cerpen Terbaru Sesampainya dirumah pamannya, ia masuk dan berbincang dengan paman serta bibinya. Setelah itu ia keluar untuk mencari angin segar. Wajah sang anggoaa TNI terngiang - ngiang dikepalanya lalu ia membayangkan kelak dia bisa menjadi sepertinya. Suatu hari Abdullah akan berangkat sekolah, dia sudah menamatkan pendidikan sekolah dasarnya dengan baik di daerahnya dan sekarang menjadi siswa MTS N 1 Keude Kreung Geukeuh. Ia termasuk siswa yang rajin dan juga selalu masuk dalam peringkat 5 besar disekolahnya. Setelah lulus dari MTS, ia kemudian melanjutkan sekolah di SMA N 1 Lancang Barat dan masih mampu mempertahankan restasinya sampai di jenjang SMA nya itu. Namun, saat memasuki semester ke lima nilainya tiba - tiba menurun karena dia terlalu sibuk dengan acara OSIS dan ia lupa untuk belajar. Nilai ulangannya beberapa berada dibawah batas tuntas. Saat pulang kerumah, ia meletakkan hasil nilainya itu dimeja belajarnya seperti biasa yang ia lakukan. Emaknya selalu mengeceknya ketika hasil ulangannya keluar. Dan saat pagi hari setelah Abdullah berangkat sekolah, Emaknya masuk ke kamarnya dan mengecek nilai - nilai ulangan anaknya itu. Namun tak disangka, nilai yang biasanya mendekati angka sempurna tapi kini yang dilihatnya adalah nilai berwarna merah. Emaknya merasa heran dengan nilai anaknya itu. Seharian Emaknya memikirkan hal hal yang mungkin membuat nilai anaknya turun. Didalam benaknya ia bertanya - tanya "Apakah Emak yang salah? apakah Emak terlalu menekannya? apakah Emak kurang memperhatikannya akhir - akhir ini?" Ia mulai merasa tak karuan. Sesampainya Abdullah dirumah,ia langsung menemui Emakya. Ia tahu Emaknya pasti telah membaca nilai merahnya itu. Dan sekarang ia sudah siap untuk mendapatkan nasihat dari Emaknya itu. Abdullah kemudian mmenghampiri Emaknya yang sedang duduk dimeja makan sambil mencium telapak tangannya. Emaknya kemudian menyuruhnya duduk. "Dul kenapa nilaimu merah begini?" tanya sang Emak sambil menyodorkan kertas berisikan tulisan nilai berwarna merah itu. "Maafin Abdul Mak, Abdul tidak belajar waktu mau ulangan. " Jawab Abdul seadanya dan mulai menundukkan kepala. "Kenapa nak?" tanya sang Emak kembali. "Abdul kecapean Mak waktu itu, Abdul terlalu sibuk dengan acara OSIS yang jadi tugas terakhir Abdul. Maafin Abdul Mak." Jawabnya, sambil kemudian mulai menurunkan lututnya ke tanah dan mencium tangan Emaknya. "Ya sudah nak, jangan kau ulangi lagi macam hal ini. Emak maafiin Abdul, sekarang makan lalu mandi! " Lalu Emaknya keluar rumah untuk menghilangkan rasa penatnya hari ini. Sedari SMP Abdul memang selalu masuk kedalam Organisai siswa itu karena membuatnya belajar banyak. Disana, ia mendapatkan berbagai pengalaman yang tak tertandingi baginya. Hari - harinya ia lewati dengan penuh syukur atas nikmat yang telah diberikan. Kegiatan setiap hari sepulang sekolah ialah berolahraga. Cita - citanya yang masih ia genggam erat sedari kecil menjadikannya gigih berlatih baik fisik maupun yang lainnya. Sore hari, ketika ia sampai dirumah setelah pulang sekolah, ia masuk ke rumah dan kemudian mencium tangan Emak dan Abinya. Ya, mungkin Abdul memang harus bersyukur karena kedua orang tuanya masih ada bersamanya walaupun keadaan ekonomi mereka masih dianggap kurang. Ia tak mempermasalahkannya. Setelah tiga tahun lamanya, besok adalah saat yang menentukan bagi dirinya dimana ia harus bertempur menghadapi soal - soal materi yang telah ia peroleh selama belajar 3 tahun di SMA nya itu. Sekarang ia sedang duduk bersama Emaknya di depan rumah sambil mengobrol. "Mak kalau besok nilai Abdul bagus, Abdul mau daftar jadi TNI ya Mak?" tanyanya pada sang Emak. "Apa kamu mengerti nak sulitnya lolos seleksi untuk menjadi anggota TNI itu?" Jawabnya sembari mengingatkan. "Abdul paham Mak. InsyaAllah Abdul akan berjuang keras untuk bisa lolos seleksi itu Mak. Selama ini juga Abdul sudah berlatih apapun yang bisa Abdul lakukan." Jawabnya memantapkan hati sang Emak. "Terserahmu saja. Emakmu ini hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Jawabnya dengan nada pasrah. "Iyo Mak, Abdul paham. Abdul akan berjuang yang terbaik untuk Emak sama Abi." Ucapnya. Setelah obrolannya itu selesai, ia masuk kedalam kamar dan mulai membaca tulisan demi tulisan yang harus ia pelajari untuk persiapan ujiannya besok. Setalah seminggu lebih lamanya ia melewati hari - hari yang menegangkan itu, kini ia sudah terbebas dari semua pelajaran. Di sekolah ia hanya bermain - main dengan temannya sembari memikirkan kemana ia selanjutnya akan melangkah. Banyak diantara teman - temannya yang akan melanjutkan kuliah di universitas - universitas terbaik di Indonesia seperti UI, ITB, UGM dan yang lainnya. Namun bagi dirinya, itu tidak cukup menarik untuk menjadi pilihannya. Walaupun guru - guru disekolahnya juga menyarankannya untuk melanjutkan kuliah karena melihat nilai raport nya yang selalu bagus dan mendapat peringkat dikelasnya. Hari ini, hari yang saat iya tunggu dimana nilai ujian akan keluar dan menentukan kelulusannya. Ia tahu persis bahwa untuk menjadi seorang TNI nilainya hanya perlu diatas standar KKM yaitu 75, namun baginya iya harus melampui nya agar memudahkannya dalam mengejar cita - citanya itu. Ya setelah menunggu beberapa jam lamanya, tiba saatnya pengumuman itu tiba. Tak disangka iya mendapat nilai 55 dari nilai total 60 dan mendapat peringkat 3 terbaik jurusan IPA disekolahnya. Sungguh prestasi yang luar biasa baginya. Tanpa disadari, kini ia terduduk lalu bersujud syukur atas apa yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Sesampainya dirumah, ia langsung memanggil - manggil Emak dan Abinya untuk berbagi kebahagiaan yang ia dapatkan siang ini. "Abi, Emak alhamdulillah nilaiku bagus. Aku mendapat nilai 55 dari 60 Mak. Dan yang ngga aku sangka Mak, aku mendapat peringkat 3 terbaik disekolahku Mak. " Ucapnya kepada kedua orangtuanya. Emaknya terharu bukan main atas prestasi yang didapatkan anaknya itu. Kemudiam Emaknya langsung memeluknya dengan dekapan yang kuat. "Abdul kamu memang yang terhebat. Kamu anak Emak satu - satunya. Kamu selalau membanggakan Emakmu ini. Maafkan Abi sama Emak yang ngga bisa menuhin semua kebutuhan kamu. " Ucapnya pada anak saya wayangnya itu. Air mata kini mulai menetes dibahu Abdul. Dan kini sang Abi yang kemudian mulai memeluk nya kini. " Abi bangga sama kamu nak. Abi doakan kamu sukses ya nak, ngga seperti Abi sama Emak yang hanya bekerja jadi buruh tani. " "Abi, Emak, Abdul ngga mempermasalahkan itu. Ini sudah takdir dari yang Maha Kuasa. Sekarang Abi Sama Emak berdoa ya buat Abdul. Abdul mau daftar seleksi untuk menjadi seorang TNI. Abi sama Emak merestuikan keinginan Abdul? " "Abi sama Emak terserah sama kamu nak. Yang penting pekerjaan yang kamu lakukan halal dan bisa membawamu untuk hidup yang lebih baik kedepannya. Dan pesan Emak jangan pernah kamu tinggalkan sholatmu. Abi dan Emak akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. " Doanya untuk anaknya. Kini ia mulai mendaftarkan dirinya menjadi prajurit negara, yaitu TNI yang sudah ia cita - citakan semenjak ia kecil. Ia mengisi formulir yang ada dan kemudian mulai mempersiapkan berkas - berkas yang harus ia serahkan. Setelah melewati itu, kemudian ia mengikuti tes tertulis dan wawancara beberapa hari kemudian. Setelah tes demi tes, seleksi demi seleksi iya jalani tinggal menunggu hasil yang akan di umumkan besok. Dia mulai resah dengan apa yang sedang dijalani. Ia takut kalau sampai ia tidak lolos. Ia bingung harus melanjutkan apa nantinya bila ia tidak diterima sebagai TN karena ia tidak tertarik pada pekerjaan yang lainnya Kemudian ia menemui Emaknya untuk sekedar melepas resah dan kejenuhan pikiran dan hatinya itu. "Emak, kalo semisal Abdul ngga lolos jadi seorang TNI, apa Emak akan kecewa? " "Kamu sudah berusaha yang terbaik semampumu nak. Untuk masih hasil itu serahkan saja smaa yang Maha Kuasa." tutur Emaknya. "Iya Emak." Setelah itu ia kembali menuju kamarnya dan sambil berpikir tentang apapaun konsekuensi yang akan ia hadapi besok. Dia bangun dari tempat tidurnya lalu mengambil air wudhu untuk sholat subuh pagi ini. Hati dan pikirannya masih tak karuan memikirkan hasil yang akan keluar pagi ini. Sebelah shalat ia kemudian mengangkat tangannya dan berdoa untuk apapun jalan yang sudah Allah tuliskan untuknya. Ia berangkat bersama Abi dan Emaknya menuju tempat pengumuman tes diamana cita - citanya itu akan tercapai atau hanya akan menjadi angan - anginnya saja. Setelah beberapa panitia menempel daftar nama yang lolos seleksi menjadi TNI, belum ada namanya disana. Ia kemudian menunggu 2 kertas terakhir yang akan ditempel berjajar di sebelah yang lain. Dan kemudian ia mencari - cari namanya sebelah itu ia bersujud syukur karena dalam baris atas lembar terakhir tertera namanya. Abah dan Emaknya langsung memeluknya dan tanpa terasa air mata kini mulai membasahi pipinya. Sesampainya dirumah, ia kemudian merapikan baju - baju yang akan dibawanya saat pelatihan menjadi anggota TNI AD itu dilakukan yaitu 3 hari kemudian. Ia mulai melatih fisiknya lagi, setelah beberapa hari terakhir iya mulai jarang melakukannya karena terus memikirkan hasil tesnya itu. Tiba saatnya pelatihan itu dimulai. Ia dididik sangat keras di markas militer itu. Tapi dengan tekadnya menjadi TNI, ia sanggup melewatinya. Dan sekarang ia telah resmi menjadi seorang Tentara Negara Republik Indonesia. Ia mendapat tugas mengamankan di Markas Kesatuan Den Rudal 001/ Pulo Rungkom. Sebagai anggota TNI ia dikenal sebagai sosok yang ramah, jujur, disiplin dan bertanggungjawab sehingga ia disegani oleh beberapa atasannya. Ketika mendapat tugas mengamankan daerah Cut Murong, dia dikabarkan menghilang dan menyusup ke kerumunan warga yang sedang mengadakaan acara peringatan 1 Muharram. Kemudian pasukan militer Detasemen Rudal melancarkan operasi pencarian masif yang melibatkan berbagai kesatuan, termasuk Brigadir Mobil Brimob. Karena insiden ini, 20 orang warga ditangkap dan kemudian disiksa kerena dituduh menyembunyikan salah satu anggota TNI itu. Warga yang ditangkap ada yang ditendang dan dipukul berkali - kali. Sampai akhirnya warga melakukan unjuk rasa dan melakukan pengrusakan terhadap markas Korem 011 serta membakar 2 sepeda motor milik TNI. Setelah kejadian itu, banyak warga Cot Murong mulai ketakutan dengan situasi yang ada. Setelah itu, truk tentara dari Arhanud menembaki para pengunjuk rasa. Kemudian mayatnya dimasukkan ke kantong dan dibuang ke dasar sungai. Emaknya selalu menangis setiap hari dirumahnya atas apa yang menimpa anaknya. Dan sampai akhirnya ia meninggal karena tak kuasa menanti anaknya itu pulang. Dan keadaan Abdullah sendiri masih tak diketahui sampai sekarang. Penutup Itulah salah satu contoh cerpen yang berisi kisah seorang anak dalam perjuangannya meraih impian dan cita-citanya. Semoga bermanfaat, sekian dan terima kasih.

cerpen singkat tentang meraih cita cita